NURUL AINI HIJRIYAH

Berpacu menjadi yang terbaik

DIPLOMASI PREVENTIF

29 June 2012 - dalam NEGOSIASI DAN DIPLOMASI Oleh nurul-a-h-fisip10

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Hubungan antar negara dalam segala bidang sudah tercermin sejak terbentuknya negara. Hubungan tersebut merupakan jembatan yang dilakukan untuk kedekatan antar negara. Seiring dengan perkembangan dunia maka hubungan negara lebih bervasiasi  yang dulu di masa dark age tiap negara yang masih di bawah pengaruh gereja dan bersifat tertutup, namun setelah kekuasaan gereja runtuh semua menjadi terbuka karena seluruh aspek kehidupan bebas dari kekangan gereja, ilmu pengetahuan pun bisa berkembang pesat termasuk ilmu untuk menjalin hubungan baik dengan negara lain.

Dewasa ini hubungan negara di seluruh dunia tidak terfokus pada state actor saja namun juga non state actor.  Kedua aktor tersebut menggunakan suatu cara untuk berhubungan secara baik yakni dengan “Diplomasi”. Diplomasi secara harfiah berasal dari kata “Diploum” yang berarti “melipat”[1]. Diplomasi sendiri sebenarnya sudah muncul dan dipraktekan sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi, tepatnya pada 2850 SM pada masa peradaban Mesopotamia kemudian dilanjutnya oleh peradaban Yunani, Roma dan hingga sekarang secara sangklek telah menjadi kajian dalam Hubungan Internasional. Scope-nya pun sudah meluas ke semua bidang kehidupan yakni seperti ekonomi, politik, keamanan, sosial, dan  budaya.

Munculnya banyak ilmuan yang menyadari dengan diplomasi hubungan negara semakin membaik maka banyak dari mereka yang mempelajari serta mendefinisikan sebagai konsepsi tentang komunikasi antarnegara dalam tataran politik global. Jadi dapat dilihat bahwa diplomasi sendiri muncul berasal dari keinginan masyarakat dunia  untuk membentuk satu tatanan dunia yang harmonis dan berjalan dalam keseimbangan yang tercermin melalui perdamaian. Definisi dari diplomasi sendiri banyak diungkapkan oleh beberapa ilmuan di dunia seperti yang diungkapkan oleh Sir Victor Wellesley, diplomasi bukan suatu kebijakan, melainkan upaya untuk memberikan pengaruh terhadap kebijakan atau pandangan negara lain. Kebijakan tersebut adalah suatu kebijakan untuk menetapkan strategi, diplomasi, dan taktik.[2] Selain itu Sumaryo Suryokusumo juga mengutarakan  diplomasi adalah kegiatan politik dan merupakan kegiatan intenasional yang saling berpengaruh dan kompleks, dengan melibatkan pemerintah dan organisasi internasional untuk mencapa tujuan-tujuannya, melalui perwakilan diplomatik atau organsasi-organisasi lainnya.[3] Jadi dapat ditarik kesimpulan mengenai arti dari diplomasi yakni kegiatan politik dalam upaya untuk mempengaruhi orang lain guna terwujudnya kepentingan nasional suatu negara.

Seiring dengan perkembangnnya diplomasi juga telah berevolusi dan berkolaborasi dengan instrumen-intsrumen baru dengan tujuan untuk menciptakan efektifitas baru dalam implementasinya. Begitu banyak cabang-cabang serta sub-bidang yang telah muncul dan berkembang berkaitan dengan studi dan pengembangan diplomasi dalam praktiknya. Kita mengenal diplomasi dalam tataran tradisional dan modern, lama dan baru. Munculnya macam –macam atau bentuk diplomasi baru yang semakin komplek menjadikan penyeleseian masalah melalui diplomasi dapat ditempuh dengan mudah karena munculnya diplomasi baru itu dalam bentuk yang spesifik atau khusus, jadi dalam menangani masalah dapat diketahui seara langsung diplomasi apa yang akan digunakan.  Diplomasi yang spesifik tersebut dapat di jumpai seperti adanya diplomasi preventif atau yang biasa disebut sebagai diplomasi pencegahan, diplomasi persahabatan dan diplomasi penyelesei konflik dan macam diplomasi yang didasarkan pada substansinya yakni diplomasi ekonomi, diplomasi keamanan, dan diplomasi Hak Asasi Manusia (HAM).

Munculnya berbagai macam diplomasi seperti diatas pastinya memiliki banyak latar belakang. Jadi mengenai macam-macam diplomasi di atas selanjutnya  akan diungkap secara lebih mendetail, serta mengungkap manfaat, sisi negatif dan positif serta kegiatan dari masing-masing diplomasi.

 

 

 

 

1.2 Tujuan

Diplomasi telah mengalami perubahan sesuai  perkembangan zaman,  dalam memenuhi Ujian Tengah Semester Negosiasi dan Diplomasi, makalah ini membahas macam-macam diplomasi yang nantinya akan bertujuan untuk mengetahui macam diplomasi berdasarkan tujuan diplomasi terdiri dari Diplomasi Preventif, Diplomasi Penyelesaian konflik, dan Diplomasi Persahabatan. Sedangkan berdasarkan isu dan substansinya dibedakan menjadi Security diplomacy, Human right diplomacy, Economic diplomacy.

Diplomasi Preventif yang dimulai dari perkembangann, manfaat, kelebihan, kekurangan dan implementasi dalam realita kehidupan. Selain itu juga untuk mengetahui diplomasi sebagai penyelesei konflik atau resolusi konflik serta implementsinya di dehidupan. Selanjutnya ialah diplomasi persahabatan dengan kata kunci sama seperti diplomsi preventif yakni mengetahui , manfaat, kelebihan, kekurangan dan implementasi dalam realita.

            Berdasarkan isu substansinya terdapat macam diplomasi berdasarkan isu atau substansinya yakni diplomasi security, diplomasi Hak Asasi Manusia dan diplomasi Ekonomi.  Masing – masing dari diplomasi tersebut akan diulas untuk mengetahui pengertian, manfaaat, kekurangan, kelebihan dan implementsinya.

      

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

             

2.1 Diplomasi Preventive

Prinsip perdamaian dunia  sebenarnya tidak mengahendaki adanya suatu kekrasan dalam bentuk apapun, apalagi bentuk serangan bersenjata yang diluncurkan kepada suatu negara. Dunia ini memerlukan  peacemaking, peacekeeping dan peacebuilding berdasarkan agenda yang dikemukakan oleh  sekretaris jenderal PBB yakni Boutros Ghali, PBB mempunyai agenda yang disebut dengan “An Agenda for Peace”.  Di dalam agenda untuk menjaga perdamaian diperlukan adanya diplomasi preventif.

  Diplomasi preventif ada atau muncul setelah perang dingin atau diawal abad ke 20th. Diplomasi ini banyak dilakukan oleh negara-negara dunia ketiga yakni negara yang merdeka dan diakui kedaulatannya setelah perang dingin, dan dilakukan untuk mencegah berbagai konflik yang berpotensi perang senjata. Diplomasi preventif secara umum digunakan untuk mencegah keterlibatan negara-negara super power atau negara-negara besar dalam sebuah konflik lokal maupun regional, karena negara-negara yang sedang berkonflik ingin menyeleseikan masalahnya secara mandiri.

Mengenai definisi dari diplomasi preventif sendiri juga banyak ilmuan yang turut menyumbangkan konsepnya untuk kelancaran studi diplomasi preventif.  Seperti Michael G.Roskin dan Nicholas O.Berry dalam bukunya The New World of International Relations, lebih memandang diplomasi prefentif sebagai : Upaya-upaya pihak ketiga untuk meredam sengketa  sebelum menjadi kekerasan.3  Selain itu dalam buku “International Relations: the changingcontours of power, Donald M.Snow dan Eugene Brown menyatakan bahwa: diplomasi preventif merujuk pada inisiatif diplomatik yang diambil untuk membujuk pihak-pihak yang memiliki potensi untuk berperang agar tidak terlibat dalam permusuhan.[4]

Dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengungkapkan bahwa definisi dari diplomasi preventif ialah sebuah langkah metode resolusi perselisihan secara damai seperti yang disebutkan dalam Artikel 33 piagam PBB yang diterapkan sebelum perselisihan melewati ambang batas untuk memicu konflik. menurut PBB diplomasi preventif juga merupakan  tindakan mencegah sengketa agar tidak muncul, untuk mencegah sengketa yang ada dari kemungkinan semakin meningkat menjadi konflik dan untuk membatasi penyebaran konflik apabila telah terjadi.

Konsep diplomasi preventif sendiri  sejak pertama kali diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB yang kedua yakni  Dag Hammarskjöld setengah abad lalu yang diungkapkan pada pidato pembukaan untuk laporan tahunan kelimabelas majelis umm di PBB.  Prinsip diplomasi preventif juga termuat dalam hukum internasional yakni :

(1) Larangan menggunakan kekerasan (atikel 2(4) dalam piagam PBB)

(2) Penyelesaian perselisihan secara damai (artikel 2(3) dalam piagam PBB). [5]

Selain itu SL Roy dalam buku “Diplomasi” juga menyebutkan diplomasi preventif yakni hasil adri pemikiran negara-negara pada masa perang dingin yang tidak ingin terlibat dengan dua kekuatan yakni Amerika dan Uni Soveit yang meminta perlindungan pada PBB.[6] Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa diplomasi preventif ialah diplomasi yang memiliki upaya untuk mencegah adanya perang baik yang dilakukan oleh negara yang memiliki power maupun negara yang tidak memiliki power.

Diplomasi preventif ada dan dilakukan karena menurut Mochamad Bedjaoui diplomasi ini memiliki 3 tujuan utama yakni:

(1) Mencegah konflik antar pemerintah dan kelompok minoritas dalam suatu negara,

(2) Mencegah perselisihan dan konflik secara terbuka,

(3) Mencegah penyebaran konflik sekecil-kecilnya apabila terjadi konflik. [7]

Diplomasi preventif ini dapat dilakukan melalui jalur politik, militer , ekonomi yang dilakukan oleh pemrintah, organisasi internasional termasuk NGO (National Goverment Organization, dimana semua element itu bertujuan untuk :

(1) Mencegah masalah peningkatan konflik dalam dua negara,

(2) Mencegah konflik yang berkompetensi menggunakan senjata,

(3)Mencegah intensitas geografis konflik meluas hingga terjadi krisis kemanusiaan,

(4) Mencegah dan mengelola agar krisis kemanusiaan tidak semakin parah, dan

(5) Sebagai bagian terhadap kondisi krisis guna memberi solusi.

Mengenai aktor yang berperan dalam diplomasi preventif ialah negara dan organisasi internasional yang memiliki fungsi yang sama yakni mencegah munculnya konflik.

Seperti layaknya diplomasi pada umumnya, secara harfiah diplomasi memiliki fungsi yakni mencegah adanya perang  dan untuk menjalin hubungan baik antar negara-negara di dunia. Maka diplomasi preventif ada dan digunakan untuk mencegah terjadinya sengketa dan penyebaran konflik antar negara oleh karena diplomasi ini memiliki prinsip yang tertuang dalam hukum internasional yang di muat oleh PBB seperti yang telah disebutkan diatas.

 Menurut Bedjaoui diplomasi preventif memiliki dua macam yakni diplomasi preventif tradisional  dan diplomasi preventif kontemporer. Diplomasi preventif tradisional merupakan diplomasi yang dilakukan oleh suatu negara dalam rangka unutk melindungi dirinya sendiri dan menjamin kepentingannya sendiri dan tidak memperdulikan keamanan yang ada di sekitar negara. Sedangkan diplomasi preventif kontemporer ialah  diplomsi yang emmberikan pemahaman kepada negara- negara bahwa keamanan dan kepentingan area di sekitar merupakan hal penting yang nantinya akan berpengaruh pada negara di sekitarnya. Diplomasi preventif kontemporer memiliki tujuan utama yakni mewujudkan perdamaian dunia secara global, kolektif dan universal. Namun tidak memberikan motivasi terhadap negara yang tidak terkena ancaman secara  nyata dalam geografis dan politis. [8]

 Jadi dapat dikatakan bahwa  yang membedakan antara diplomasi preventif tradisional dan kontemporer ialah  bila tradisional negara terfokus pada keamanan dalam negaranya sendiri dan diplomasi preventif kontemporer lebih mengutamakan  perdamaian dalam lingkup yang lebih luas dan tidak hanya fokus pada dalam negeri saja.  

Di era seperti sekarang ini masih terdapat atau dijumpai  negara yang masih belum menyadari  akan pentingnya keamanan dan perdamaian di sekitar negaranya. Hal inilah yang memunculkankekurangan bagi diplomasi preventif yaitu  diplomasi preventif masih sering diragukan dan belum semua negara menyadari adanya diplomasi preventif oleh karenanya diplomasi preventif masih sulit dalam perkembanganya.  Selain itu kekurangannya ialah dalam bentuk tidak bisa diseleseikannya  semua masalah yang ada contohnya kasus politik yang tentunya membutuhkan penyelesaian secara politik, adanya ketidakpercayaan dianatara pihak yang berkonflik, keterbatasan sumber daya di PBB dan adanya anggapan jika diplomasi ini merupakan cara lama yang sudah tidak relevan sehingga menghambat proses penyeleseian konflik.[9] Disisi positifnya PBB mengutarakan bahwa diplomasi ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk menyeleseikan krisis di dunia, dan penggunaan mediator juga menjadikan diplomasi ini sebagai diplomasi yang mengalami perluasan konflik paling mustahil. Karena pihak ketiga berusaha untuk mengakhiri konflik..

Dalam implementasinya diplomasi preventif meliputi beberapa aktivitas yakni penemuan fakta mengenai konflik yang sedang terjadi antar negara, melakukan mediasi dan tindakan pencgahan sengketa. Mengenai penyelidikan diplomasi ini dilakukan dengan menyelidiki sebab dari konflik kemudian diadakan pendekatan kepada para pihak yang sedang bersengketa agar konflik tidak memanas dan menjadi perang terbuka.  Untuk menjaga agar terhindar dari sengketa maka dibutuhkan mediator sebagai penengah antar negara yang berkonflik.  Contohnya ialah pada kasus Kosovo dimana kasus yang terjadi alah pertiakaian antara etnis Albania dan etnis Serbia. Diawali dari Milosevic yang melakukan pembersihan etnis Albania, karena etnis ini memerangi etnis Serbia.  PBB mengirimkan UNMIK yang dibentuknya pada 10 juni 1999, mediator ini berasal dari dewan keamanan PBB no 1244.  UNMIK melakukan pemulihan keadaan dengan membentuk pemerintahan sementara pasca lengsernya Milosevic, selain itu melakukan pembangunan disegala bidang. Dan sebelum PBB mengirimkan UNMIK, PBB sebelumnya menggirimkan KFR (kosovo force) untuk melakukan pendekatan dengan cara diplomasi preventif kepada para pihak yang bertikai di Kososvo.[10]

Selanjutnya dalam diplomasi preventif terdapat  3 formula dalam menjaga perdamaian, yang pertama ialah peacemaking. Peacemaking merupakan tindakan penegakan kembali perdamaian pasca konflik yang meliputi pembentukan perdamaian dengan cara  penyeleseian sengketa  melalui konsolidasi, mediasi dan arbritasi. Namun pihak ketiga tidak memiliki hak unutk memutuskan dan pihak ketiga hanya menengahi bila terjadi suasana yang memanas. Kemudian peacekeeping,  merupakan  tindakan penjagaan  peridak pecah kembali damaian agar tidak  pecah kembali perang terbuka antara ppihak yang bertikai dengan cara penempatan  tentara untuk menjaga perdamaian di daerah konflik. Pasukan untuk menajga perdamaian ini biasanya dilakukan oleh negara-negara yang emmeilii tentara kuat dan di bawah pimpinan PBB. Yang terakhir ialah peacebulding,  merupakan kegiatan pembangunan kembali daerah-daerah yang mengalami kehancuran akibat terjadinya konflik.  Sebelumnya harus dilakukan identifikasi struktur-struktur lokal yang dapat digunakan untuk memperkuat perdamaian untuk mengahindari agar tidak terjadi konflik.[11]

Selain implementasi diplomasi preventif  yang dapat dilihat  dari kasus Kosovo, implementasi lain ialah dalam usaha preventif  yang dilakukan pada masa damai yakni dengan membangun hubungan baik dan masa krisis dilakukan dengan pencarian fakta, memberikan jasa-jasa baik, mengurangi aksi kekerasan dan penempatan unit-unit yang ditunjuk untuk mencegah eskalasi konflik. Contoh lain dari implementasi diplomasi preventif ialah negara-ASEAN  dalam menyikapi adanya diplomai prevenyif yang difungsikan untuk menjaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara. “Namun hingga kini implementasi diplomasi ini di wilayah ASEAN masih terhambat sikap saling curiga negara-negara peserta ASEAN Reginonal Forum (ARF)”,  hal tersebutlah yang dikatakan oleh Direktur Politik dan Keamanan Ditjen Kerjasama ASEAN Kementrian Luar Negeri, Ade Padmo Sarwono, dari hasil rapat yang diadakan di Surabaya. Dari 27 negara hanya sembilan dan termasuk Indonesia yang menyerahkan draf “ARF Security Outlook” sebagai implementasi dari diplomasi preventif.[12] Sikap saling curiga ini didasari karena diplomasi preventif selalu mengandung unsur intervensi yang dilakukan oleh negara yang sudah maju diantara negara-negara ASEAN.  Hal tersebut juga yang menjadikan hambatan dalam penerapan secara utuh dari diplomasi preventif.

 

2.2 Diplomasi Penyeleseian Konflik

Konflik adalah suatu kondisi sosial yang muncul ketika ada dua aktor atau lebih yang mencoba untuk mewujudkan tujuan yang berbeda.[13] Di dalam hubungan internasional konflik sering terjadi diantara negara-negara karena adanya suatu benturan kepentingan yang  berbeda antara dua aktor atau lebih dan aktor-aktor negara tersebut berusaha untuk menggunakan power-nya yakni dengan mempengaruhi aktor lain guna tercapainya tujuan nasional negaranya. Bentuk dari konflik yang sering terjadi di kalangan internasional berupa perang, genosida, aksi vandalisme,persuasi, perkawinan politik,  dll. jadi pada saat konflik telah terjadi maka perlu dilakukan suatu upaya untuk menyeleseikan  konflik serta mencegah penyebaran konflik.

Untuk menyeleseikan konflik antar negara secara internsional maka terdapat bentuk dari diplomasi yang lebih spesifik yakni Diplomasi Penyeleseian Konflik. Sesuai dengan namanya diplomasi penyeleseian konflik dilakukan untuk menyeleseikan konflik antar negara. Ketika konflik terjadi dan para aktor telah menggunakan powernya maka keadaan menjadi sangat tidak kondusif, sehingga diplomasi memilii peran yang berpengaruh terhadap kelangsungan konflik antar negara.  Karena diplomasi dianggap sebagai cara yang terbaik untuk menghindari tindak dan pemikiran tentang kekerasan jadi jalan akhir yang ditempuh adalah dengan bernegosiasi untuk mencapai hasil penyeleseian masalah yang dihadapi.

Dalam realitanya, Diplomasi juga memiliki suatu bentuk kekebalan  dan keistimewaan dimana tujuan dari adanya keistimewaan dan kekebalan adalah untuk menciptakan situasi yang efisien untuk menciptakan hubungan damai. Diplomasi penyelesaian konflik sendiri memiliki tujuan yaitu agar konflik yang terjadi di tataran internasional segera terseleseikan dan agar hubungan internasional menjadi kondusif.

Diplomasi ini juga memiliki hambatan dalam pencapaian tujuannya yakni bila negara yang bernegosiasi saling keras pada masalah maka kemungkinan besar akan terjadi perang namun keuntungannya ialah  mereka juga bisa mendapatkan pihak yang netral untuk bernegosiasi untuk mereka atau meminta Mahkamah Internasional (ICJ) untuk membantu dalam membuat keputusan untuk mereka misalnya Singapura dan Malaysia diperbolehkan ICJ untuk menyelesaikan klaim mereka.selain itu  negara bisa saling mengenal lebih baik akibat selalu berfikir untuk menyeleseikan konflik secara damai. Mengenai keuntungannya, keuntungan yang didapat dari usaha diplomasi seringkali sangat menguntungkan bagi kedua pihak, misalnya saja keuntungan karena terhindar dari kerugian fisik maupun non-fisik yang dalam skala yang lebih besar. Selain menggunakan Mahkamah Internasional cara-cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan suatu diplomasi resolusi konflik adalah dengan mediasi, arbritasi, penggunaan media massa, melakukan usaha  disarmament dengan diplomasi melalui telepon.[14]

Kemudian mengenai aplikasinya diplomasi sebagai jalan untuk menyelesaikan konflik berupa sebuah perundingan yang dilakukan negara berkonflik untuk mencari suatu penyelesaian dan hal tersebut dapat dilihat pada contoh  kasus yang terjadi dikososvo dimana PBB sebagai pihak ketiga mengirimkan UNMIK yang dibentuknya pada 10 juni 1999, mediator ini berasal dari dewan keamanan PBB no 1244. Sehingga diharapkan dengan adanya mediator masalah akan cepat terseleseikan.

 

 

2.3 Diplomasi Persahabatan

Diplomasi persahabatan ada dimaksudkan untuk menjalin persahabatan dan sangat menghindari penyelesaian konflik dengan peperangan. Hubungan yang baik antara dua negara atu lebih memudahkan negara-negara tersebut dalam mencapai kepentingannya dalam bidang politik, ekonomi, budaya, maupun ideologi.  Dan biasanya yang melakukan diplomasi persahabatan ialah negara-negara yang serumpun yang merupakan negara sahabat yang diperkuat denga negosiasi dana diplomasi. Pada akhir masalah identik dengan perdamaian. Menlu RI, Dr. R.M. Marty M. Natalegawa  mengutarakan tujuan utama dari diplomasi persahabatan ialahmemper erat hubungan antar negara dengan negara lainnya dan menghindari perang antar negara.[15] Hal tersebut  tertulis dalam point kelima ynag tertuang di Vienna Convention On Diplomatic Relation tahun 1961 yang berisi “meningkakan hubungan persahabatan antara nrgara pengirim dan negara penerima serta memajukan hubungan  ekonomi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.” [16]

Selain itu diplomasi juga mempengaruhi penyebaran ideologi. Negara yang memiliki ideologi yang kuat akan berusaha untuk merangkul banyak negara untuk menganut dan mengaplikasikan ideologi tersebut serta secara tidak langsung menghalangi penyebaran ideologi lain dari negara lain. Jika suatu negara menganut ideologi yang sama, dapat dipastikan negara-negara tersebut memiliki hubungan yang sangat baik dan erat karena mereka merupakan sahabat.

Diplomasi persahabatan dilakukan agar masalah yang terjadi segera dapat diseleseikan dan lebih efisien. Dengan diplomasi, negara-negara ini bisa membahas masalah dan memahami satu sama lain. Namun tak urung juga diplomasi persahabatan juga memiliki kekurangan yakni bila negara sahabat mulai curiga dan tidak percaya pada negara lain dan bila hal itu terjadi maka penyelesaian konflik akan sulit di tempuh karena kurang saling umumnya keuntungan dari berbagai macam diplomasi ialah sama yakni untuk  menjaga suatu perdamaian antar negara, namun dalam diplomasi persahabatan berupa  memaksa penyerang untuk memikirkan kembali invasi, yang mengarah ke perdamaian.

 Implementasi dari diplomasi ini dapat dilihat dalam berbagai sektor baik ekonomi yakni dengan adanya perdagangan antar kawasan ASEAN, militer dengan pelatihan militer bersama, dalam sektor budaya dengan memperkenalkan budaya negara ke negara lain agar tercipta rasa saling menghargai budaya satu sama lain  dan sektor lainnya. Bila dari sektor budaya dapat dilihat pada saat Susilo Bambang Yudhoyono yakni Presiden Republik Indonesia yang ke enam yang membuka Wolrd Batik Summit 2011 di Jakarta pada 28 september 2011. Dalam pertemuan itu beliau mengatakan “kita gunakan batik sebagai sarana diplomasi dan persahabatan dengan dunia internasional.dan indonesia harus bangga karena indonesia memiliki batik dengan berbagai corak yang bisa menggambarkan beragamnya rakyat indonesia”[17]

Diplomasi masa kini yakni abad 21 merupakan bentuk diplomasi yang mengedepankan persahabatan, seperti ungkapan yang diungkapkan Susilo Bambang Yudhoyono, ungkapan tersebut berupa “Thousends Friends, Zero Enemy” SBY  menganggap bahwa dalam  menjaga kelangsungan hidup secara universal maka diperlukan sifat berteman dengan baik dengan negara sekitar. Jadi bisa dikatakan bahwan kemungkinan terjadinya perang sangat kecil sekali karena semua dianggap sebagai teman baik.  Dan yang menjadi sahabat dari Indonesia yang paling dekat ialah negara-negara ASEAN karena negera tersebut secara geografis memiliki kedekatan dengan Indonesia dan juga karena mereka tergabung dalam satu kawasan yang bernama ASEAN (Association of South-East Asia Nation. [18]

 

2.4 Macam Diplomasi Menurut Isu Atau Substansinya

Selanjutnya ialah pembahasan mengenai macam diplomasi menurut isu atau substansinya yakni terdiri dari security diplomacy, Human Right Diplomacy dan Economic diplomacy.

 

          2.4.1 Security Diplomacy

Diplomasi security telah terlihat dengan adanya perjanjian Westphalia pada tahun 1648 yang mengakhiri perang 30 tahun. Keamanan negara sangat diperlukan agar negara tetap survive dalam dunia internsional  selain itu negara berusaha memnuhi kebutuhan dalam negerinya dimana untuk survive selalu identik dengan hard power namun tidak demikian menurut Millan Jasbez penggunaan hard power tidak akan maksimal dalam menjaga survive suatu negara namun memerlukan aspek lain seperti eknomi, politik ,social, budaya  dll. Diplomasi ini tidak bergantung pada PBB saja namun sekarang banyak muncul actor non negara seperti Organisasi Internsional, dan actor non state lainnya serta adanya jaringan security yang muncul pada beberapa abad yang lalu.[19] Security diplomasi ini mengusung keamanan secara internsional sebagai isu utamanya, dan  memiliki beberapa  elemen yang masih bertahan di era modern karena elemen ini digunakan sejak zaman perjanjian, elemen tersebut ialah:

  1. Non interference dalam urusan dalam negeri di negara lain.
  2. Konsep diplomatic imunity
    1. Pengakuan dari negara saja yang dapat melakukan kontrol poitik, sejak Westphalia  gereja tidak berpengaruh.

Security diplomasi harus selalu ditegakkan karena keamanan sangat dibutuhkan oeh negara dejak munculya globalisasi yang membawa isu kompleksitas.  Misalnya dengan munculnya security kontemporer  yang digunakan pada isu deteritorialisasi yakni tidak adanya national boundaries, yang nantinya menebabkan ancaman-ancaman dari level global bisa mempengaruhi dlam negeri secara bebas. Seperti ancaman sosial yang berupa wabah penyakit dan degradasi lingkungan, contoh lain ialah konflik terorisme yang merupakan organisasi transnasional, aksi terorisme ini dapat mengancam keamanan dan kelangsungan hidup warga negara di negara lain.

Tujuan dari diplomasi security adalah bagaimana caranya memenuhi kebutuhan social, lingkungan, kesehatan, pendidikan, pekerja, intelektual, emosional, dan lain sebagainya. Dan dalam perjalanan ke depannya. Diplomasi ini memunculkan beberapa key player selain states, seperti organisasi internasional, aktor non-state, dan jaringan-jaringan security semacamnya. Selain itu juga terfokus pada keamanan dan perdamaian, jadi seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.

Di dunia internasional juga terdapat beberapa bentuk penyediaan security diplomasi yakni balance of power yang digunakan sebagai security hingga akhir perang dunia pertama, Collective Security yang dibentuk negara-negara yang tidak mengehendaki perang yakni berupa Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Collective Security adalah salah satu jenis strategi pembangunan koalisi di mana sekelompok negara setuju untuk tidak saling menyerang dan membela satu sama lain terhadap serangan dari salah satu dari yang lain, jika serangan semacam itu dibuat.[20] organisasi internasional berupa collektive Defense yakni NATO yang di secara umum di pegang oleh Amerika. Namun sebenarnya NATO adalah contoh collective security, sedangkan PBB adalah upaya  dari collective security.

2.4.2 Human Right Diplomacy

Rein Mullerson mengkaji cara instrumen kebijakan luar negeri yang digunakan untuk mempromosikan hak asasi manusia luar negeri serta bagaimana hak asasi manusia digunakan untuk kepentingan lainnya bertujuan kebijakan luar negeri. Dalam bukunya  Mullerson mengutarakan eksplorasi hubungan antara hak asasi manusia dan stabilitas internasional, peran organisasi non-pemerintah, komunitas bisnis dan media massa dalam merumuskan agenda hak asasi manusia pemerintah dan organisasi antar pemerintah agar penerapan diplomasi ini mudah terrealisai.[21]

Rein Mullerson juga menyimpulkan dengan melihat peran badan-badan internasional PBB dan lain yang bergerak dalam promosi hak asasi manusia dan bagaimana kekuatan militer dapat menjadi pilihan dalam menyelesaikan pelanggaran.[22] Hak asasi manusia telah menjadi isu internasional yang semakin penting sejak Perang Dunia II. Sayangnya, pemerintah dan pembuat kebijakan tidak selalu melihat masalah HAM sebagai prioritas. Banyaknya kasus pelanggaran HAM di dunia internsional menjadikan lembaga negara dan non negara turut dalam menangani kasus  dan tak sering pelanggaran HAM tersebut dilakukan oleh negara satu terhadap negara lain sehingga banyak  terjadi diplomasi mengenai HAM.

Dalam implementasi dalam kehidupan saat ini dapat dilihat melalui perilaku Amerika tampak mendominasi corak hubungan internasionalnya yang bertumpu pada pemenuhan dan perlindungan terhadap HAM serta demokrasi.[23] Dengan kata lain, di dalam menjalin hubungan luar negeri dengan negara lain termasuk Indonesia, Amerika kerap mengkaitkan kebijakannya dengan tingkat pemenuhan dan perlindungan terhadap HAM dan demokrasi di suatu negara.

Kepedulian internasional menenai pelanggaran HAM tercermin dengan terbentuknya organisasi yang menjadikan agenda Hak Asasi Manusia sebagai prioritas, organisasi itu dimulai dari PBB yang mengagendakan Aksi political, Operasi peacekeeping, Disarmament, Human right action, Developmental assistance, Humanitarian acion, Informasi public dan media, Persamaan gender, Drug and crime preventio

2.4.3 Diplomasi Ekonomi

Bergeijk en Bulan (2008), Diplomasi Ekonomi dan Keamanan Ekonomi, dalam C. Costa (ed.), Forntiers Baru Diplomasi Ekonomi, Lisboa menggambarkan diplomasi ekonomi sebagai “ satu paket  kegiatan (kedua metode tentang dan proses untuk membuat keputusan internasional) yang terkait dengan kegiatan ekonomi lintas batas (ekspor, impor, investasi, pinjaman, bantuan, migrasi) yang dilakukan oleh aktor negara dan non-negara di dunia nyata.”  Menurut Morganthau dalam buku karangan SL. Roy ia mengatakan bahwa “ diplomasi ekonomi ini dilakukan oleh diplomat dengan tujuan penting yakni mendapatkan kekuatan-keuatan ekonmi.”[24]

 

 

Diplomasi ekonomi terdiri dari 3 unsur yaitu  :

  1. Penggunaan pengaruh politik dan hubungan untuk mempromosikan perdagangan, dan investasi, untuk memperbaiki fungsi pasar dan untuk mengatasi kegagalan pasar serta untuk mengurangi biaya dan risiko transaksi lintas batas (termasuk hak milik). Biasanya diplomasi ekonomi terdiri dari kebijakan komersial, tetapi juga banyak aktivitas organisasi non pemerintah.
  2. Penggunaan aset ekonomi dan hubungan untuk meningkatkan atau memperkuat kerjasama saling menguntungkan dan hubungan politik yang stabil, yaitu untuk meningkatkan keamanan ekonomi. Dalam hal ini diperlukan kebijakan struktural dan perjanjian perdagangan bilateral (ditujukan untuk mencapai pola tertentu perdagangan geografis ) dan distorsi politik perdagangan dan investasi seperti dalam kasus boikot dan embargo.
  3. Cara untuk mengkonsolidasikan iklim politik yang tepat dalam lingkungan ekonomi politik internasional dan lembaga untuk memfasilitasi tujuan ini. Cakupannya berupa perundingan multilateral dan merupakan domain organisasi supranasional dan lembaga-lembaga seperti Organisasi Perdagangan Dunia, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dan Uni Eropa. [25]

 

Diplomasi ekonomi untuk menciptakan keamanan ekonomi. Keamanan ekonomi didefinisikan sebagai keamanan yang didasarkan pada hubungan ekonomi internasional (seperti perdagangan barang dan jasa dan arus modal). Diplomasi ekonomi memiliki peran nyata untuk bermain dan mungkin menyediakan sistem manajemen risiko untuk situasi internasional kritis dan realitas global baru. Diplomasi ekonomi bisa menjadi sistem tiga pilar berikut:

1) Penggunaan pengaruh politik;

2) Kenaikan biaya konflik;

3) Konsolidasi lingkungan politik dan ekonomi yang tepat internasional. [26]

Diplomasi ekonomi dapat digunakan untuk menghasilkan dan meningkatkan keamanan ekonomi. Seperti yang disebutkan diatas bahwa untuk survive negara tidak hanya memerlukan kekuatan militer namun juga kekuatan di luar ittu, seperti ekonomi. Rana mendefinisikan diplomasi ekonomi sebagai "proses melalui mana negara mengatasi dunia luar, untuk memaksimalkan keuntungan nasional mereka di semua bidang kegiatan termasuk perdagangan, investasi dan bentuk lain dari pertukaran ekonomi menguntungkan, di mana mereka menikmati keunggulan komparatif.” [27]

Diplomasi ekonomi memerlukan penerapan keahlian teknis yang menganalisis efek dari (Negara Penerima) suatu negara situasi ekonomi pada iklim politik dan kepentingan ekonomi negara pengirim. Aktor yang berpengaruh pun sekarang tidak hanya negara namun juga non negara Seperti semua instansi pemerintah yang memiliki mandat ekonomi beroperasi secara internasional dan merupakan pemain dalam diplomasi ekonomi . lembaga seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang terlibat dalam kegiatan ekonomi internasional juga pemain dalam diplomasi ekonomi. [28]

Bentuk baru dari diplomasi ekonomi ialah dengan mengembangkan strategi untuk pemasaran suatu bangsa, berdasarkan analisis dari keadaan ekonominya. Diplomasi ekonomi, benar-benar sebuah variasi dari diplomasi publik, mendorong investasi, penawaran gembala dari awal sampai penandatanganan kontrak, dan pasar internasional. Hal tersebut merupakan bentuk implementasi dari diplomasi ekonomi yang dilakuni hampir seluruh negara di dunia karena tidak bisa dipungkiri bila negara tidak membutuhkan negara lain maka dengan diplomasi ekonomi pemenuhan kebutuhan warga negara dapat terjamin.

Selain itu implementasi dari diplomasi ekonomi dapat digolongkan daalam empat bentuk yakni :

(1)   Perdagangan, yang diutamakan ialah berupa eksport dan import gunan memenuhi kebutuhan,

(2)   Investasi: investasi dibutuhkan  terutama oleh negara-negara berkembang yang masih mengupayakan pertumbuhan ekonomi. Investasi asing ini secara garis besar berupa modal.

(3)   Bantuan: bantuan dapat berupa bantuan makanan, obat-obatan, pakaiandan dapat juga berupa bantual pemberdayaan mental.

(4)    Teknologi: teknologi disini digunakan unutk mendukung ketiga bentuk implementasi diplomasi ekonomi. Karena dengan perkembangan teknologi yang semakin maju maka perdaganga, investasi dan pemberian bantuan akan mudah terealiasasi sesuai harapan. Dan kesejahteraan dunia mudah tercapai.[29]

 

Secara realita implementasinya  seperti yang dilakukan oleh Amerika dan soviet mempraktekan diplomasi ekonomi melalui aksi bantuan ekonomi terhadap negara-negara di eropa barat maupun dunia ketiga untuk memperoleh dukungan dalam meraih kepentingan nasionalnya. seperti Marshall Plan dll.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

                Dewasa ini diplomasi memang menjadi komponen penting dalam menjalin hubungan dengan negara lain.  diplomasi juga menjadi tonggak penting dalam pencapaian kepentingan nasional.  Sebagai alat untuk mencapai kepentingan suatu negara diplmasi memiliki berbagai bentuk  hal tersebut disebabkan karena  setelah perang dunia yang kedua dan perang dingin  masalah yang dihadapi negara-negara di dunia semakin kompleks yang dibuktikan dengan  tidak hanya membahas isu-isu politik saja namun juga ekonomi, budaya, sosial,dll.

            Dengan munculnya isu-isu baru diatas maka terbentuklah diplomasi yang lebih spesifik yang di dasarkan agar masalah yang dihadapi dapat diatasi dengan baik sesuai dengan efisiensi dari macam diplomasi tersebut. Berdasarkan tujuan diplomasi terdiri dari Diplomasi Preventif yang difungsikan untuk menjaga keamanan dengan melakukan pencegahan terhadap aksi – aksi yang dapat memicu konflik, Diplomasi Penyelesaian konflik berfungdi sesuai namanya yakni menyeleseikan konflik yang terjadi anta negara dan mencegah penyebaran konflik agar tidak meluas ke negara lain yang tidak ikut dalam konflik, dan Diplomasi Persahabatan yang banyak dilakukan oleh negara-negara se-kawasan karena secara geografis negara-negara tersebut berdekatan sehingga untuk melakukan kegiatan menjadi mudah.

 Sedangkan berdasarkan isu dan substansinya dibedakan menjadi Security diplomacy yang mengusung keamanan secara universal sebagai isu utama, Human right diplomacy: dengan diplomasi ini diharapkan dikancah internasional tidak ditemukan kembali isu pelanggaran HAM, dan yang terkahir ialah Economic diplomacy, diplomasi bentuk ini mengutamakan keamanan ekonomi antar negara yang terealisasi melalui perdagangan, investasi, bantuan dan penyebaran teknologi.

Jadi dengan adanya bentuk diplomasi yang lebih sempit atau spesifik masalah yang dihadapi dunia internasional dapat terseleseikan dengan baik karena tidak lagi mengandalkan satu bentuk diplomasi saja. Adanya oganisasi yang dibentuk sesuai dengan bentuk diplomasi juga membantu dalam mempercepat penyeleseian konflik antar negara. 


KATA KUNCI

  1. Macam diplomasi berdasarkan tujuannya.
  2. Awal mula terbentuknya diplomasi preventive.
  3. Pengertian diplomasi preventive yang dikemukakan oleh bebrapa illmuan dan juga dari PBB.
  4. Tiga formula untuk mewujudkan diplomasi preventif.
  5. Implementasi diplomasi preventif di dunia internasional.
  6. Pengertian diplomasi penyeleseian konflik.
  7. Alasan dibentuk diplomasi penyeleseian konflik dan implementasinya dalam kasus.
  8. Pengertian diplomasi persahabatan.
  9. Alasan dibentuk diplomasi persahabatan dan implementasinya dalam kehidupan.

10.  Macam diplomamsi berdasarkan isu atau substansinya.

11.   Pengertian security diplomasi beserta implementasinya.

12.  Pengertian diplomasi HAM dan implementasinya.

13.  Pengertian diplomasi ekonomi dan aplikasinya dalam dunia internasional.


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badri.J 1993. kiat dipomasi buku 1:  pengertian dan ruang lingkup. Jakarta : pustaka sinar harapan.

Bedjaoui, M.2000. the fundamental preventif diplomacy. New york : routledge and the center international health and cooperation.

Bergeijk en Bulan (2008), Diplomasi Ekonomi dan Keamanan Ekonomi, dalam C. Costa (ed.), Forntiers Baru Diplomasi Ekonomi, Lisboa

Berridge, Geoff, Diplomacy: Theory and Practice ;pp92-97

Donald M.Snow dan Eugene Brown. 2000.International Relations: the changingcontours of power. Page 442

Hans Morganthau dalam Roy,SL.1991, diplomasi.jakarta PT: raja grafindo persada

Jazbec,Milan.2006.Diplomacy and Security after the end of the cold war: the change of theparadigm.SI

Michael G.Roskin danNicholas O.Berry dalam bukunya The New World of International

Relations.     1999:406

Mochtar Kusuma Tmaja, perdamaian dunia dan peranan PBB, Pradnya Paramita, Jakarta , 1987:98

Rana.Kishan.2002.diplomasi bilateral. diploFoundation,Malta.

Rein Mulerson, Human Righta Diplomacy, London and New York. 1997

Roy, S L.1991. Diplomasi, Jakarta: Rajawali Pers.

Suryokusumo, Sumaryo. 2088.Hukum Diplomatik, Teori dan Kasus.bandung: Alumni

Wellesley, Sir Victor Alexander Augustus Henry (1876–1954), diplomatist. Oxford Biography Index Number 101036828  ( what is this? )

Tersedia di : http://diplomatie.belgium.be/en/policy/economic_diplomacy/

(diakses pada 22 oktober 2011)

Tersedia di : http://www.unic-jakarta.org (diakses pada 22 oktober 2011)

Tersedia di : Http://Www.Un.Org/” An Agenda For peace”, (diakses pada  22 oktober 2011 pukul 21.34)



[1] Roy, S L, Diplomasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), hlm. 1.

[2] Wellesley, Sir Victor Alexander Augustus Henry (1876–1954), diplomatist. Oxford Biography Index Number 101036828 [what is this?

[3] Suryokusumo, Sumaryo. 2088.Hukum Diplomatik, Teori dan Kasus.bandung: Alumni

3Michael G.Roskin danNicholas O.Berry dalam bukunya The New World of International Relations.     1999:406

4Donald M.Snow dan Eugene Brown. 2000.International Relations: the changingcontours of power. Page 442

[5]    PBB. 1992:5

[6]   Roy.S L, 1991. Diplomasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

[7]   Bedjaoui, M.2000. the fundamental preventif diplomacy. New york : routledge and the center international health and cooperation. 

[8] Bedjaoui, M.2000. the fundamental preventif diplomacy. New york : routledge and the center international health and cooperation. 

[9] http://www.unic-jakarta.org (diakses pada 22 oktober 2011)

[10]Mochtar Kusuma Tmaja, perdamaian dunia dan peranan PBB, Pradnya Paramita, Jakarta , 1987:98

[11]Http://Www.Un.Org/” An Agenda For peace”, diakses pada  22 oktober 2011 pukul 21.34

 

[13] Roy, SL, Perwanto dan Mirsawanti.1991. Diplomasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada  hlm. 162-163

 

[14] Berridge, Geoff, Diplomacy: Theory and Practice ;pp92-97.

[15]   www.kemlu.go.id  (diakses pada  22 oktober 2011)

[16]   Badri.J 1993. kiat dipomasi buku 1:  pengertian dan ruang lingkup. Jakarta : pustaka sinar harapan.

[17]  http://www.kompas.com/hari-batik-sedunia.htm

 

[19]Jazbec,Milan.2006.Diplomacy and Security after the end of the cold war: the change of theparadigm.SI

 

[21]  Rein Mulerson, Human Righta Diplomacy, London and New York. 1997

[22]  Rein Mulerson, Human Righta Diplomacy, London and New York. 1997

[24]  Hans Morganthau dalam Roy,SL.1991, diplomasi.jakarta PT: raja grafindo persada

[25] Bergeijk en Bulan (2008), Diplomasi Ekonomi dan Keamanan Ekonomi, dalam C. Costa (ed.), Forntiers Baru Diplomasi Ekonomi, Lisboa

[27] Rana.Kishan.2002.diplomasi bilateral. diploFoundation,Malta.

[28] Bayne dan Woolcock (eds) 2007

[29] Rana.Kishan.2002.diplomasi bilateral. diploFoundation,Malta.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :